Kue Bugis Berasal Dari Daerah

Kue Bugis Berasal Dari Daerah – Katirisala merupakan kue tradisional Bugis yang sering dihidangkan pada acara-acara atau saat hari raya tradisional besar masyarakat Bugis Sulawesi Selatan (Sulsel). Kue ini memiliki kombinasi rasa lezat dan manis yang unik namun membuat ketagihan.

Kue ini terdiri dari dua lapisan, lapisan bawah berisi ketan yang dicampur santan. Sedangkan toppingnya yang terbuat dari telur, santan, dan gula merah menghasilkan tekstur kenyal dengan kombinasi rasa manis dan asin.

Kue Bugis Berasal Dari Daerah

Kathrisala biasanya dibuat dengan cara dikukus di loyang berukuran besar. Setelah dipanggang, kue ini bisa dipotong kecil-kecil.

Kue Khas Bugis Taripang: Asal Usul Hingga Filosofi Di Baliknya

Kue tradisional ini telah diakui oleh Departemen Umum Warisan Budaya dan Luar Negeri Republik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda pada tahun 2015 dengan nomor registrasi 20150055096.

Menurut Dr Firman Saleh, pakar budaya Universitas Negeri Hasanuddin (Unhas), kue tradisional ini berasal dari daerah Ajathappareng. Hal ini dijelaskan dalam buku-buku dan kitab suci kuno.

Kepada Sulawesi Selatan, Jumat (24 Februari 2023), ia menjelaskan: “Kathirisala dijelaskan dalam buku dan karya kuno bahwa dia berasal dari Ajatappareng. Ajatappareng meliputi wilayah Sidrap, Parepare, Pinrang, namun disebut dengan wilayah Ajatappareng”.

Namun Firman mengatakan belum ada penjelasan jelas kapan kue katirisala ini pertama kali muncul. Namun kue ini diyakini baru dikenal oleh toko bunga pada abad ke-17.

Kue Tradisional Yang Memiliki Banyak Nama

“Tidak ada yang menjelaskan secara pasti kapan kue ini muncul dalam sejarah, tapi diyakini terjadi pada abad ke-17. Buktinya bosara terjadi di sela-sela acara adat. Katirisala disajikan di kepala bosara,” kata Firman.

Kue Katirisala sering dihidangkan untuk acara-acara akbar, bangsawan dan acara akbar lainnya.

“Contohnya, boogie seperti maccera banua, sebuah bentuk penghormatan/mengagungkan suatu daerah dengan cara menghormati leluhur di sekitarnya, disajikan pada acara makan tersebut,” kata Firman.

Pihak perusahaan menjelaskan bahwa katirisala berasal dari kata “tiri” yang berarti “jatuh” dan “sala” yang berarti “salah” yang secara harfiah berarti salah menjatuhkan. Arti kata ini mengacu pada lapisan gula merah pada kue ini, yang membuat perbedaan dalam cara pembuatan dan penyajiannya.

Manis Seperti Doi, Kue Ini Wajib Dibawa Saat Momen Lamaran: Ternyata Ini Filosofinya

“Jadi sebenarnya ada filosofi di baliknya. Kalau bikin kue, ketannya dimasukkan dulu, baru gula pasirnya. Tapi justru sebaliknya, karena gulanya mengalir, menetes atau mengalir ke bawah, jadi saat membuat kue justru sebaliknya. Anda” tentang memanggangnya. , di atas gula pasir, di bawah ketan,” ujarnya menjelaskan.

Kue tradisional berbahan dasar ketan dan gula manis ini juga memiliki filosofi tersendiri dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Filosofi masyarakat Bugis adalah gula itu manis sehingga menjadi simbol bagi yang melakukan kegiatan ritual, warga atau pengunjung agar lebih memahami satu sama lain, mata tetap baik, hidup menjadi baik seperti biasanya.gula, ujarnya.

Makanya ada harapan semuanya baik-baik saja, senang melihat, senang melihat, orang-orang selalu baik. Dan lagu atau ketan itu simbol kekuatan, tambahnya.

Ombus Ombus Dan Empat Jajanan Tradisional Khas Medan

Kami juga berharap kue kathrisala ini dapat selalu menjadi harapan dan doa anda untuk kehidupan yang baik.

Pihak perusahaan menyebut katirisala merupakan makanan asal Sulawesi Selatan yang perlu dilestarikan. Hal inilah yang menjadi dasar dimasukkannya masakan ke dalam daftar warisan budaya takbenda.

“Karena ini produk yang perlu dilestarikan, perlu dilestarikan. Oleh karena itu, benda tersebut termasuk dalam warisan takbenda. Karena kalau tidak ada produsen maka tidak akan ada yang melanjutkan cara dan resep pembuatannya,” kata Firman.

1. Campurkan ketan putih dan hitam dalam mangkok, lalu rendam dalam air panas selama 1 jam, jika menggunakan air dingin rendam selama 2 jam. Lalu cuci ketan yang sudah direndam sebelumnya.

Resep Kue Bugis Mandi Yang Bercita Rasa Legit

2. Setelah dicuci, kukus hingga setengah matang, tambahkan santan dan 1/2 sdt garam. Lanjutkan mengaduk dan memasak dengan api sedang, tunggu hingga santan menyusut.

4. Kemudian siapkan loyang yang dialasi plastik dan kukus ketan dengan api sedang selama 15 menit.

7. Setelah semua bahan tercampur rata, tambahkan selapis gula merah ke dalam ketan kukus. Lalu kukus lagi selama -/+ 35 menit. Jika katirisala mengeras berarti kuenya sudah matang. Taripang merupakan kue tradisional Sulawesi Selatan (Sulsel) yang identik dengan rasa manis dan asin. Kue ini merupakan makanan tradisional masyarakat Bugis yang sangat populer.

Kue ini memiliki rasa manis asin dengan tekstur renyah saat pertama kali digigit. Pasalnya, taripang ini dilapisi dengan lapisan gula merah leleh yang telah dikeringkan. Taripang memiliki tekstur berserat dan kenyal di bagian dalam karena terbuat dari campuran tepung ketan dan kelapa parut.

Cobain Apang, Kue Apem Bugis Makassar Di Banjaran Bandung

Meski merupakan kue tradisional, Taripang sering dijual di toko atau kafe. Bagaimana asal usul, filosofi dan proses pembuatan Taripang? Di bawah ini penjelasan lengkapnya.

Taripang populer di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) pada abad ke 15. Saat itu, sering disajikan di pesta pernikahan.

Pakar Kebudayaan Bugis-Makasar Universitas Hasanuddin (Unhas) Ph.D. Firman Saleh menjelaskan, kue tradisional ini pertama kali muncul di wilayah pesisir Sulawesi atau yang kemudian disebut Celebes.

Wilayah yang dicakup adalah: Makassar, Ajathappareng, Sidrap, Pinrang, Parepare dan Barru. Namun kawasan ini dinamakan Taripang Saella.

Resep Kue Rangi, Jajanan Tradisional Khas Betawi Yang Lembut Nan Manis

“Taripang ini berasal dari abad ke-15 selama kurang lebih seribu empat ratus tahun dan disajikan pada pesta pernikahan. Kemunculan pertama taripang berasal dari daerah pesisir yang saat itu dikenal dengan daerah Celebes, termasuk termasuk penduduk Makassar dan penduduk daerah lain.” Daerah Bugis di Sulawesi Selatan seperti Ajathappareng, Sidrap, Pinrang, Parepare dan Barru. Tapi di daerah ini lebih dikenal dengan nama Taripang Savella, kata Firman kepada Sulawesi Selatan.

Pihak perusahaan juga menjelaskan bahwa nama kue ini ada kaitannya dengan bentuk makhluk laut bernama teripang. Kue ini dinamakan kue Taripang karena bentuknya yang menyerupai teripang.

“Kalau taripang, namanya berasal dari teripang, hewan laut. Oleh karena itu dinamakan Taripang karena bentuknya yang seperti teripang. Bahannya dicampur tepung ketan, kelapa, lalu gula merah,” ujarnya. Dia menjelaskan.

Bahan utama pembuatan taripang adalah tepung beras yang dicampur kelapa yang membawa filosofi mendalam. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, padi merupakan sumber kehidupan dan padi juga merupakan simbol kehidupan.

Jajanan Pasar Tradisional Khas Pulau Jawa, Wajib Untuk Dicoba!

“Tentunya filosofinya adalah nasi merupakan sumber kehidupan atau pangan terpenting bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Oleh karena itu, hampir semua masakan atau kue tradisional terbuat dari tepung beras atau pisang. Nasi juga merupakan simbol kehidupan,” kata Firman. berbicara.

Tak hanya itu, kelapa yang digunakan untuk membuat Taripang rupanya juga memiliki filosofi tersendiri. Kelapa merupakan simbol kegembiraan untuk menambah cita rasa pada kue ini.

“Dan satu lagi dicampur kelapa. Menurut Boogie, apapun yang dicampur kelapa pasti enak dan harum. Lalu goreng,” lanjut Firman.

“Setelah disangrai, dilumuri gula. Masyarakat Bugis-Maksar percaya gula adalah sumber kekuatan. Jadi ada tepung beras, kelapa, dan dilumuri gula sebagai simbol kekuatan atau sebagai pelengkap,” tuturnya. . . Dia menjelaskan.

Bikin Barongko Pisang Bersama Si Kecil. Lezat Banget Lho Milk Lovers!

Pihak perusahaan juga mengatakan bahwa kue Taripang ini pernah terlihat di pesta atau pernikahan. Kue ini sering dijadikan oleh-oleh pernikahan yang dibawakan oleh calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita atau sebaliknya.

Dulu, taripang hanya dihidangkan pada acara pesta pernikahan atau pernikahan, sebagai salah satu kue atau masakan yang dibawa oleh pengantin pria ke rumah pengantin wanita atau sebaliknya, kata Firman.

Selain di pesta pernikahan, kue ini juga sering dihidangkan pada acara aqiqah. Taripang menjelaskan, ditempatkan di dalam panci (panna) saat upacara aqiqah.

Selain itu, masyarakat Bugis-Makasar zaman dulu menaruh Taripang di atas piring dan menyebutnya sesaji atau Anre-Anre Devata.

Kue Khas Bugis Katirisala: Filosofi, Sejarah Dan Cara Membuatnya

“Pada zaman dahulu, sebelum masuknya Islam, masyarakat Bugis-Makasar menyimpan taripang di piring dan nampan sebagai persembahan atau sering juga sebagai anre-anre devata atau makanan kepada para dewa,” ujarnya.

Sekilas bahan dan cara membuat kue Taripang terkesan mudah, namun banyak orang yang tidak bisa membuat kue ini. Oleh karena itu pembuatan kue ini memerlukan keahlian khusus.Onde-onde merupakan salah satu masakan tradisional masyarakat Bugis-Makasar yang menjadi hidangan wajib dalam ritual syukuran. Kue tradisional ini disebut juga Umba-umba oleh masyarakat Bugis-Makasar dan sudah ada sejak abad ke-13 dan ke-14.

Kue tradisional ini mempunyai rasa yang enak. Serpihan gula merah yang meleleh memberikan rasa manis lengket yang khas. Sementara itu, campuran tepung beras dan kelapa parut memberikan rasa yang lembut. Perpaduan rasa ini sangat nikmat di lidah.

Namun kehadiran kue tradisional ini dalam ritual syukuran masyarakat Bugis-Makasar bukan hanya karena kelezatannya saja. Namun ada harapan dan doa berbeda yang tersimpan dalam kue onde-onde ini. Oleh karena itu, sering dilakukan bersamaan dengan ritual adat.

Mirip Klepon, Ini Onde Onde Yang Wajib Ada Saat Syukuran Bugis Makassar

Onde-onde juga menjadi kue yang sangat diperlukan dalam upacara syukuran masyarakat Bugis Makassar. Misalnya saja ketika Anda pindah ke rumah baru, atau membeli mobil baru, dan sebagainya.

Budayawan Universitas Hasanuddin (Unhas) Dr. Firman Saleh mengatakan, khas masyarakat Bugis Makassar terkadang berharap dan berdoa lewat makanan. Oleh karena itu, kue jenis ini patut dihadirkan dalam ritual syukuran atau acara adat.

“Jadi kuenya tidak hanya disajikan dalam upacara atau acara adat saja, tapi juga membawa makna harapan dan doa,” kata Firman kepada Sulawesi Selatan, Selasa (5/10/2022).

Pihak perusahaan menjelaskan, Onde-onde dibuat dari tiga bahan utama yaitu gula merah, tepung beras, dan kelapa. Masing-masing dokumen tersebut menjadi simbol tersendiri bagi masyarakat Bugis Makassar.

Kue Beppa Tori Atau Deppa Tori Kue Khas Dari Toraja

Gula merah melambangkan cinta, tepung beras melambangkan kekuatan, dan kelapa melambangkan kegembiraan. Ketiga bahan inilah yang dianggap masyarakat Bugis-Makasar sebagai bahan utama pembuatan masakan Bugis-Makasar.

“Bicara tentang simbol atau kontrak, garis cinta, tepung beras,

Kue lumpang berasal dari daerah, kue sagu berasal dari daerah, kue bugis mandi berasal dari daerah, kue bangkit berasal dari daerah, suku bugis berasal dari provinsi, suku bugis berasal dari daerah, kue cucur berasal dari daerah, kue semprong berasal dari daerah, kue bugis berasal dari, suku bugis berasal dari pulau, kue sarang semut berasal dari daerah, suku bugis berasal dari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *